Jumat, 11 Januari 2013

AS GERTAK CHINA DENGAN KAPAL PERUSAK SILUMAN, CHINA TERTAWA

Dalam sejarah, AS adalah negara yang paling maju dalam membuat kapal perang. Adalah DDG-1000, kapal perang perusak kelas Zumwalt, yang disebut Pentagon sebagai "Kapal siluman super berpeluru perak". Kapal perang ini dapat bergerak pelan di sepanjang pantai, termasuk di perairan dangkal, memukul sasaran dengan senjata elektromagnetik dan mengecoh radar musuh. 


Amerika berencana untuk melengkapi armadanya di kawasan Asia-Pasifik dengan kapal-kapal dari "film-film fiksi ilmiah". Rencana ini terlebih untuk mengantisipasi China yang mana saat ini militernya tengah meningkat tajam. Pentagon bermaksud untuk merelokasi 60% dari kapal-kapal perangnya di tahun 2020 dalam rangka strategi militer baru.

Kapal Perusak Siluman AS DDG-1000
Kapal perusak baru saat ini sedang dibangun di Maine, yang pertama akan diluncurkan pada awal 2014. Mengunjungi galangan kapal lokal pada April lalu, Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Jonathan Grinert memuji kapal tersebut, dan mengatakan bahwa itu memang benar-benar kapal perang masa depan. Menteri Pertahanan AS mengatakan di sebuah konferensi keamanan regional di Singapura, bahwa kapal baru berteknologi tinggi itu akan menjadi bagian signifikan dari kekuatan AS di Asia-Pasifik.

Kapal perusak siluman tersebut dapat juga berguna di wilayah lain, seperti Teluk Persia, tapi militer yakin bahwa yang lebih bermanfaat adalah digunakan di Asia. Kapal-kapal baru tersebut dapat melakukan misi baik di laut lepas maupun dekat pantai. Di Asia ada banyak pulau, dan China memiliki garis pantai yang panjang di Pasifik. 

Kekhawatiran AS akan China

Washington telah mengkhawatirkan China yang secara aktif memodernisasi armada tempurnya. Secara khusus, negara China memiliki kapal induk yang dapat diandalkan, serta rudal dan kapal selam. Dengan kapal perang atau kapal selam biasa, maka akan sangat sulit sekali untuk mendekati perairan China. Amerika Serikat meyakini bahwa Beijing bermaksud untuk mencegah campur tangan Amerika atas konflik perbatasan di Laut Cina Selatan antara China dan beberapa negara Pasifik, dan sengketa dengan Taiwan yang saat ini masih diklaim oleh China sebagai salah satu provinsinya.

Sekarang AS memang memiliki keuntungan besar di laut lepas, tetapi China dengan modernisasi armadanya semakin berjaya di perairan dangkal, perairan pesisir. Kini Amerika tengah merancang kapal selam siluman baru untuk mengatasi kekuatan China ini.

Namun, militer China tidak takut dengan "Siluman berpeluru perak" versi fiksi ilmiah ini. Secara resmi, China memang tidak memberikan komentar mengenai rencana AS ini. Tapi seorang petinggi Angkatan Laut China muncul di sebuah televisi lokal dengan berkomentar secara terbuka yang bernada mengejek dan menertawai "tingkah" Amerika ini. Dia mengatakan bahwa semua pembicaraan tentang kapal perusak siluman terbaru Amerika yang tidak terkalahkan ini tidak lebih hanyalah sebuah iklan belaka, tapi seandainya memang benar-benar ada, maka cukup kapal nelayan China yang sarat akan peledak yang akan menghancurkannya.


Kapal Perusak Siluman AS DDG-1000


Tak hanya di China, di AS sendiri pun banyak yang skeptis dengan kapal siluman perusak ini, meskipun keraguan itu bukan kepada teknologinya tetapi kepada biaya proyeknya. Pembuatan 1 unit DDG-1000 akan menelan biaya 3,1 miliar dolar - hampir dua kali lipat biaya pembuatan kapal perusak sebelumnya. Bila ditambahkan dengan biaya penelitian dan pengembangan, maka akan meningkat menjadi 7 miliar dolar. Sebuah harga yang sangat mahal yang harus dibayar AS di saat ekonomi mereka tidak menentu. Biaya itupun bila sesuai target, bila tidak - seperti proyek F-35 dan F-22 yang biayanya membengkak - maka bukan mustahil biayanya akan lebih dari itu. 

Menghabiskan Dana Miliaran Dolar

Para kritikus meyakini bahwa dana yang disedot oleh Pentagon dari Departemen Keuangan untuk proyek ini, lebih baik dihabiskan untuk dukungan bagi Angkatan Laut biasa AS daripada untuk program ini. Banyak pengamat militer mempertanyakan mengapa pengembang proyek ini terlalu terpaku pada teknologi masa depan fiksi ini.

Mereka sepertinya lupa dengan kisah pesawat fighter Amerika yang bermasalah, pesawat tempur generasi kelima  siluman F-22 Raptor. Sebelumnya F-22 Raptor disebut-sebut sebagai pesawat tercanggih yang pernah dibuat, tapi seperti yang baru-baru ini diungkapkan, bahkan pesawat ini berbahaya untuk pilotnya sendiri. Terlepas daripada itu, F-22 Raptor dijatuhkan dari pasar militer global karena harganya selangit. Pengganti F-22 Raptor, yaitu F-35 juga begitu, merupakan proyek paling mahal dalam sejarah Pentagon.

Angkatan Laut AS mengatakan bahwa biaya untuk membuat perusak tersebut akan tergantikan. Mereka yakin bahwa teknologi yang ditanamkan pada kapal siluman baru tersebut akan memenuhi keinginan AS untuk saat ini, dan pada dekade berikutnya secara bertahap akan diperkenalkan perusak-perusak lainnya.

"Kapal perusak tersebut juga dilengkapi dengan senjata elektromagnetik yang dengan bantuan medan magnet dan arus listrik akan melontarkan proyektil pada kecepatan beberapa kali lebih cepat dari kecepatan suara"

Kapal perusak DDG-1000 dan kapal siluman lainnya dari kelas Zumwalt memiliki body yang tidak terlacak, dilengkapi dengan motor listrik dan perangkat sonar paling canggih dan rudal. Kapal ini lebih panjang dan lebih berat dari kapal-kapal saat ini yang ada di Angkatan Laut AS, tetapi dengan sistem otomatis yang ditanamkan padanya, akan mengurangi jumlah kru yang harus mengoperasikan kapal ini. Selain itu, radar musuh akan melihat kapal ini bukan sebagai kapal perang, tetapi hanya sebagai sebuah kapal biasa yang sedikit lebih besar dari perahu nelayan.

Kapal perusak tersebut juga dilengkapi dengan senjata elektromagnetik yang dengan bantuan medan magnet dan arus listrik akan melontarkan proyektil pada kecepatan beberapa kali lebih cepat dari kecepatan suara.

Kongres AS Tidak Menyetujui Program Kapal Siluman Ini

Namun, meskipun fitur kapal perusak ini luar biasa, perusak ini hampir "tenggelam" di kongres AS. Awalnya Angkatan Laut menginginkan 32 unit, namun jumlah tersebut berkurang menjadi 24 dan kemudian menjadi tujuh. Sekarang hanya 3 kapal yang dibuat. 

Biaya yang meningkat, sehingga tidak mengherankan bila proyek tersebut akan kolaps, kata seorang pengamat pertahanan di Technological University of Singapore Richard Bitsinger. "Sebagai ide, DDG-1000 memang baik, tetapi sangat riskan untuk menerapkan teknologi terlalu banyak ke dalamnya yang belum terbukti efisien," ia melanjutkan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar