Jumat, 26 Agustus 2011

Tentang sebuah Kematian




Ada sebuah kisah yg bertutur tentang perjalanan hidup seorang pemuda menghabiskan hari-hari akhir kehidupannya.
Sang pemuda adalah seorang yang menjadi keras hati bersamaan dengan berhasilnya dia menjadi pebisnis sukses.

Suatu kesempatan, sang pemuda dihadapkan pada sebuah masalah yang kemudian mengantarkannya pada perenungan tentang ‘kekerdilan’ hidupnya selama ini.
Dalam pencarian akan hakikat kehidupan dan cinta yang hakiki, sang pemuda menemukan dirinya terserang sakit dengan vonis dokter sisa usianya berkisar hanya beberapa bulan saja.

Awalnya, dia sangat shock.
Kenapa justeru pada saat-saat seperti ini Tuhan ingin memanggilnya?
Nasehat seorang temanlah yang kemudian meneguhkannya.
Bahwa Tuhan menyediakan hikmah besar untuknya.
Mungkin dengan ini Tuhan ingin memberinya nikmat terbesar; mempersiapkan diri menuju kematian.
Sebuah kesempatan yang tidak dimiliki semua orang.

Ia pun menyusun hari2nya kembali.
Sederet tanggung jawab kehidupan yang harus diselesaikannya disusun sedemikian rupa.
Membayar kesalahan pada bawahan, menemani orang tua, berbuat baik pada banyak orang hingga menyiapkan bingkisan buat orang-orang dekatnya.

Sebuah tekad terpatri dalam dirinya; “Aku tak ingin meninggalkan dunia ini dengan sebuah penyesalan”.
Hingga pada saat Tuhan memanggilnya, orang-orang di sekelilingnya melepas dengan derai air mata.

Ini adalah salah satu kisah episode kematian.

Firman Allah SWT:“Seseorang tidak tahu pasti apa yang akan diperbuatnya besok pagi, dan tidak pula mengetahui secara pasti di bumi/daerah mana ia akan mati” (QS. Luqman: 34).

Sebab, sekali lagi hidup dan mati benar-benar menjadi rahasia Allah SWT.
Berapa banyak orang yang sehat sentosa tiba-tiba meninggal mendadak.

Berapa banyak orang yang selamat dalam kecelakaan-kecelakaan maut.
Atau berapa banyak orang yang sembuh dari penyakit kritis yang divonis tak terobati.

Ajal akan datang pada saat yang Allah swt tetapkan, tanpa ada yang bisa menunda atau mempercepatnya.

“… ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun” (QS. Al-A’raf: 34).

Ketentuan ini memberi isyarat bagi kita untuk senantiasa bersiap-siaga menuju kematian.

Maha Suci Allah, yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk makhlukNYA.
Lebih dari itu, rahasia kematian juga mengajarkan produktivitas tinggi pada manusia.
Karena tidak tahu kapan akan dipanggilNya, maka manusia diajarkan senantiasa mencetak karya-karya terbaik sepanjang masa.

Manusia juga diajarkan untuk senantiasa membina hubungan silaturahim yang baik dengan semua orang di setiap kesempatan.

Alangkah indahnya dunia ini tatkala setiap orang menyadari hakikat kabar kematian yang tersembunyi.
Hal terpenting bukanlah tentang kapan dan dengan cara apa kita menutup lembaran kehidupan kita di dunia ini.


Tapi bagaimana akhir kisah yang kita ukir dalam lembaran2 itu.
Hal terpenting adalah tak ada penyesalan ketika kita meninggalkan dunia ini.
Kematian kita menjadi sebuah kabar duka bagi setiap orang yang sempat maupun yang tidak sempat mengenal kita, sehingga rangkaian do’a pun mengalir laksana mata air.

Dan pada saatnya di yaumil akhir nanti, kita bisa bertemu Allah SWT dalam sumringah wajah ketakwaan .
Akhirnya, tuntunan kekasih Allah swt  -Rasulullah SAW- benar-benar menjadi rumus pamungkas bagi kita dalam menjalani hidup ini:
“Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati esok hari”.

Sumber : bundadontworry.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar